Banjir yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah telah berlangsung hampir 3 minggu tanpa surut total di sejumlah wilayah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati mengajukan rencana pembuatan sodetan di Sungai Juwana sebagai salah satu upaya menangani banjir di pati secara jangka panjang.
Kondisi Banjir Saat Ini Banjir Di Pati
-
Sekitar 50 desa masih terdampak banjir di beberapa kecamatan seperti Pati, Juwana, Kayen, Jakenan, Sukolilo, Dukuhseti dan Gabus.
-
Ribuan rumah terendam banjir (ribuan keluarga terdampak) dengan kedalaman air sekitar 30–50 cm di beberapa titik, khususnya di permukiman yang lebih rendah.
-
Pengungsi masih ada, meskipun banyak warga memilih bertahan di rumah masing-masing saat ini.
Dampak Banjir Di Pati
-
Rumah yang kebanjiran: Lebih dari 3.650 rumah dan lebih dari 4.606 kepala keluarga terdampak.
-
Lahan sawah terendam: Sekitar 4.475 hektare sawah mengalami genangan banjir, dengan kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp12 miliar.
-
Jumlah pengungsi: Tercatat ratusan kepala keluarga dan lebih dari 1.000 jiwa berada di lokasi pengungsian atau bertahan bersama keluarga.
Status Tanggap Darurat
Pemkab Pati telah menetapkan dan bahkan memperpanjang status tanggap darurat bencana karena banjir dan fenomena cuaca ekstrem yang belum sepenuhnya hilang.
Upaya Pemerintah Mengatasi Banjir Di Pati
1. Usulan Sodetan Sungai Juwana
Pemkab Pati bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) berencana membuat sodetan sepanjang sekitar 11 kilometer di Sungai Juwana untuk mengalirkan air lebih cepat ke laut dan mengurangi genangan di wilayah terdampak banjir.
-
Rencana ini masih dalam tahap kajian dan koordinasi awal dengan BBWS.
2. Normalisasi Sungai
-
Selain sodetan, Pemkab juga mengintensifkan normalisasi Sungai Juwana dengan membersihkan sampah, eceng gondok dan pengerukan sungai agar aliran air kembali lancar.
3. Bantuan Sembako
-
Bantuan logistik seperti sembako telah didistribusikan untuk membantu warga terdampak banjir, termasuk bantuan dari Badan Pangan Nasional untuk puluhan ribu jiwa.
4. Patroli dan Pengamanan
-
Aparat seperti Satpolairud melakukan patroli di wilayah banjir untuk memantau keselamatan dan kondisi warga.
FAQ — Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Kenapa banjir di Pati bisa bertahan lama?
Banjir terjadi karena curah hujan tinggi sejak awal Januari 2026, membuat sungai seperti Sungai Juwana (Silugonggo) tidak cukup cepat mengalirkan air sehingga genangan bertahan lama. Kondisi saluran sungai yang menyempit oleh sedimen dan sampah juga memperlambat aliran air.
2. Desa mana saja yang terdampak banjir?
Wilayah terdampak tersebar di banyak desa di berbagai kecamatan seperti Pati, Juwana, Kayen, Jakenan, Sukolilo, Dukuhseti, dan Gabus. Jumlah desa terdampak sempat lebih dari 100 desa dan sekarang masih puluhan desa.
3. Apa itu sodetan Sungai Juwana?
Sodetan adalah kanal atau saluran buatan yang dibuat sebagai jalur aliran air tambahan untuk mempercepat keluarnya air dari sungai ke laut, sehingga dapat membantu menurunkan muka air dan mengurangi genangan.
4. Apakah banjir ini sama dengan banjir tahun lalu?
Banjir merupakan kejadian yang sering terjadi di Kabupaten Pati saat musim hujan karena luapan sungai, namun skala dan lama banjir setiap tahunnya bisa berbeda. Pemerintah setempat terus berupaya normalisasi sungai untuk mencegah terulangnya banjir serupa.
5. Bagaimana kondisi bantuan untuk warga terdampak?
Bantuan sembako dan logistik sudah didistribusikan untuk ribuan warga terdampak banjir, termasuk data melalui NIK agar tepat sasaran.
Kesimpulan
Banjir di Kabupaten Pati yang telah bertahan hampir 3 minggu merupakan fenomena dampak cuaca ekstrem dan kapasitas aliran sungai yang belum cukup besar untuk menangani volume air. Pemerintah Kabupaten Pati merespon dengan menetapkan status tanggap darurat, memperpanjang status bencana, melakukan normalisasi sungai, serta mengusulkan sodetan Sungai Juwana untuk solusi jangka panjang. Masyarakat terdampak banjir telah mendapatkan bantuan logistik, namun kebutuhan akan solusi infrastruktur jangka panjang semakin penting supaya kondisi serupa bisa diminimalkan di masa depan.





